Oleh : Abdul Halim
CERITA 1
Kebisaanku
memandang awan memang tiada duanya. Hobi itu diturunkan dari Buyut dari
buyut-buyutku yang rumornya berasal dari negeri biru. “Ah, bodo amat” hanya itu
yang ku gumamkan saat para desas desus berdenging di telingaku.
Negeri Biru. Hanya karangan manusia.
Negeri Biru yang aman. Negeri biru yang tenteram. Negeri Biru yang tinggal
diatas awan. Biru yang katanya memiliki kekuatan air. Biru yang ini itu. Aduh,
kepalaku berputar-putar memikirkannya.
Dan rumornya pula, Lambang Negeri biru
adalah Awan. Lambang kesejahteraan. Memangnya awan itu biru?(jawaban orangorang
hanya air berwarna biru, dan air berasal dari awan). Ah, sudahlah, aku masih
kelas 6 SD, Belum perlu memikirkan itu(memang tidak perlu;), dan harus fokus
saja pada pelajaranku.
CERITA 2.
Three
years later.
Umurku sekarang 14 tahun. Kelas 3 SMP. Aku
tumbuh remaja sama seperti Remaja lelaki lainnya. Tumbuh menjadi Edward
Beckenhaule yang sedikit lebih lain dari Edward yang dulu, Edward yang polos
dan tak mengerti apapun, kecuali hanya pelajaran. FOKUS.
Edward
Beckenhaule. Itu namaku.
***
Perpustakaan kota akan
dibangun dengan kontraktor-kontraktor ternama. Dan pastinya, didesain dengan
insinyur yang ternama juga. Itu dikenal sebagai perpustakaan yang cukup
terkenal di kota ini, The Hidden Library. Nama yang cukup Misterius dan
tentunya sangat terlihat tak kreatif, tapi….
Nama Perpustakaan itu berarti banyak dan menyimpan
banyak rahasia dan keajaiban.
***
Aku
menguap. Jam beker sedari tadi berdering keras, nyaris terdengar keluar rumah.
“Besok perpustakaan resmi dibuka,”
gumamku. Ya, tepat hari minggu, Hidden Library resmi dibuka. Aku sudah tak
sabar menyelidiki perpustakaan absurd itu. Yang jelas, aku sekolah dulu.
“Hai!” Patrick menyapaku riang.
“juga,”
balasku singkat.
“Ed, kau sudah lihat keramaian sejak
jam 12 malam? Saat bangunan Perpus sudah selesai? Wow, aku bergabung menerobos
kerumunan itu. Kau tidak melihatku? Aku sekeluarga kesana, dan aku yakin kau
juga di antrian itu, kan? Dan, wow, asyik dong kau bisa melihatnya secara
dekat.” Patrick bertanya yang benar-benar tidak aku ketahui dan sangat absurd.
. “Memangnya, apa yang diperebutkan
kerumunan itu?” aku mulai penasaran.
“Memotret,” jawab Pat pendek.
“Siapa?”
“Astaga, Ed! Padahal kau keturunannya! Keturunan Raja Biru! Kau ingat?
The Hidden World yang sering diceritakan ibumu! Konon, dialah Raja biru.
Pemimpin Negeri biru! Dia datang bersama pangeran putih, pemimpin negeri
putih!” Patrick berseru.
Apa yang kudengar? Lelucon macam apa ini?
Hidden World? Ya aku ingat dongeng itu. Tapi, itu hanya dongeng, tidak lebih.
Dongeng yang tiada benarnya. Dongeng yang selalu dipercayai anak kecil berumur
1-2 tahun. Dongeng yang… ah, sudahlah. Aku hanya berpaling, tidak mendengarkan
lagi Patrick yang mulutnya masih sibuk berbicara.
Ya, memang itulah tipeku. Tidak mau banyak pikiran, pendiam. Sebab
itulah membuatku jarang sakit. Sampai saat ini, aku baru dua kali sakit. Karena
sifatku; acuh saja. Cuek saja.
Pulang Sekolah.
“Huhhh, patrick sangat percaya pada Negeri
Biru! Hidden
World dipercayai banyak orang? Jangan-jangan saking hebohnya dunia ini sendiri
juga Negeri Biru! Dan aku keturunannya? Omong Kosong!” aku membanting kemudi
mobilku ke kanan, mengadu pada Ibu.
Ibu
menatapku kosong, sepintas lalu ada juga rada-rada terkejut. “Hmmmh, sudahlah,
Ed. Tak usah dipikirikan. Hei, sejak kapan kau mulai berubah? Bukankah kau yang
mengatakan sendiri bahwa orang yang banyak pikiran dan peduli sekali terhadap
omong kosong bukan sifatmu? Sekarang, kau
tak butuh banyak tahu. Lagipula, mana mungkin Orang terhormat sedunia(rumor
orang orang raja biru orang terhormat)datang, melambaikan tangan—ah, terlalu berlebihan! Ya, ibu pun tidak mau datang ke
antrean mengular itu. Kecuali semalam, baru ibu menyadari, bahwa itu juga orang
menyamar, mengecat seluruh pakaiannya dan mahkotanya dengan warna biru.” Ibu
menasihatiku panjang mengular, sepanjang antrean semalam.
“Mungkin,”
aku gesit mengerem Alphard hitamku. Kami sampai.
Sampai
rumah, aku sudah tidak mengacuhkan pikiranku lagi. Soalnya aku akan ikut
kompetisi Novel Se-international, karena memang aku sudah terpilih. Jadi,
sedikit pun tak ada tempat untuk memikirkan yang lain, hanya memikirkan
kepentinganku, berusaha meraih enam belas miliar. Dan Medali Emas asli seberat
3 ons, jenis emas londen.
Meski aku terlahir keluarga kaya, aku
merasa uang juga harus ditambah dan didapatkan oleh diriku sendiri. Seperti pejuang
keras, aku menjuluki diriku.
Sayang, kompetisi itu berakhir dengan
penyerahan sertifikat dan penyerahan boks besar berisi 12 miliar, dan
penyerahan emas 95
gram.
Aku juara dua umum.
Sainganku,
Chaven Holski. Dia sungguh sungguh jago dan mahir membuat novel(apalagi novel
trilogy, dia bisa diandalkan), bisa dikatakan dia jauh lebih hebat.
Chaven juara 1
umum. Dia mendapatkan enam belas miliar.
Tak
buruk. Yang pasti, aku sudah bekerja keras. Plong sudah otakku. Semua pikiran bersih.
Semua urusan selesai. Dan sekarang, aku harus pulang, karena Ibu akan keluar
kota mengajakku.
Kebiasaan Ibu tiada duanya sudah. Berbelanja.
Dengan
bersungut sungut aku mengganti baju. Rasanya malas sekali. Apalagi otakku yang
lelah dan tanganku yang kebas selama 8 bulan ini mengetik keyboard komputer. Untuk membuat novel berjumlah seribu lembar
selama 8 bulan.
Tapi,
tak apalah. demi ibu. Demi orang yang
sangat kuhormati.
Lagi-lagi aku yang akan
menyetir(padahal ibulah salah satu lulusan akademi mengemudi terbaik, dan
bahkan pernah mengikuti balapan mewakili kota ini. Sayangnya ibu tak menang,
dikarenakan menabrak mobil balap lain dan pengemudinya tewas. Harusnya ibu
juara satu). Tapi biarlah, sesuai yang kukatakan tadi. Demi ibu.
Asap mobil pekat mendekat ke
halaman rumah kami. Aku menggas habis. Ibu terlonjak dari tempat duduknya. Aku
juga terkejut. Aku pikir aku belum memasukkan Control Speed System(dikenal dengan gigi)meski itu Automatic. Hampir kami menabrak pohon
beringin di depan gang.
Suasana di Mall
Ramai.
Rasanya
tidak enak kalau hanya duduk melihat ibu terkesima kesima melihat kecantikan
gaun, atau capek harus memberikan pendapatku atas permintaan pendapat baju dari
ibu. Aku memutuskan berjalan jalan sekitar Carrefour. Ada sebuah Kibod kecil
terdengar. Ternyata ada Catwalk kecil
untuk sekaligus mempromosikan baju baju yang lumayan cantik. Tapi, tidak
untukku.
Aku
berjalan, hingga ke pusat handphone.
“Selamat
Siang, Pak, silakan dilihat Lenovo A-31477 nya pak. RAM 3 GB, Baterai 1200 MaH,
lalu ….”
“Promosi Coolpad MAX dengan dual in
one, dan dengan harga terjangkau, baterai 1500 MaH, lalu …”
“Pelanggan terhormat POLYTRON ZAP
F2277 dengan Ram 5 GB, harga 1,750 rb, baterai ZAP tahan lama dengan 4800 MaH,
lalu …”
Aku sedikit tertarik. Hanya sedikit, hanya
sedikit sekali. Jika kalian makan sesuatu, itu kurang dari sejumput dan kurang
dari secuil atau seutas atau—sebutan lainnya untuk menyebut lebih dari kecil.
Jangankan melirik sekilas, mendengarkannya saja, aku sedikit terganggu. Meski
separuh dari tidak suka.
Lalu Laptop. ASUS D78129 dengan baterai 6000 MaH,
berhasil mencuri perhatianku. Aku melirik sekilas. Tapi Aku sudah membeli
laptop baru—laptop terbaik dua bulan lalu. Dengan RAM 10GB, bonus paket data
sebanyak 6gb, lalu Baterai 10000 MaH. Harga hampir 50 juta, tapi aku tak
keberatan. Yang penting aku menulis novel terbaik.
KidS Playground digital atau
dikenal dengan TimeZone. Ya Ampun ! apa yang dikatakan orang kalau aku memainkannya?
Toko permainan anak zaman sekarang, itu
judul toko. Ada PlayStation, lalu Nintendo DS, lalu PSP, dan aneka lainnya. Ah,
ini sih toko permainan pemilik toko ini! Ini jelas jelas mainan anak SD
1-Kelas6, terkecuali Playstation.
Akhirnya sampailah aku di pilihan
toko buku. Toko buku itu besar. Namanya Hidden Library juga. Bagus, ini
cabangnya perpus dekat rumahku itu.
Aku melewati sebuah rak. Memandangi
novel-novel yang berjejer. Hidden World juga ada. Tebersit keinginanku untuk lebih
banyak tahu, seperti yang dikatakan ibu tadi. Sepertinya tipeku berubah.
Hidden World adalah seri nya. Hidden
World adalah novel trilogy. So, aku membeli buku negeri Hitam dulu.
Hidden World adalah novel seri atau
trilogy. Berkisah tentang tiga dunia yang jahat dan baik. Aku tak tahu jalan
cerita, jadi aku memutuskan membeli buku Negeri Hitam dulu. Pilihan novelnya :
Negeri Biru, Negeri Putih, dan Negeri Hitam. Aku kemudian mengantar buku itu ke
kasir, lalu kubayar.
Aku sedikit tidak sabar. Akhirnya aku
memutuskan menjemput ibu di lantai bawah.
Ibu sudah menenteng boks belanjaan
besar di kanan kiri tangannya. Tiba tiba ibu mengajakku ke food court. Tak buruk. Aku memang belum makan siang, padahal ini
jam setengah dua.
Ibu memesan daging sapi dan kopi susu. Aku hanya makan sandwich nasi.
Ya, Sandwich yang dilapisi nasi lezat.
Saat
pulang.
“Yaah,
meskipun lelah, kami senang,” Ibu berceloteh dengan adik perempuan ku yang
masih kelas 6 SD.
“Siapa yang menyetir? Kakak lagi?
Aduh, Kakak kan capek, bu.” Protes adikku simpatik.
“Mumpung masih ada yang bisa
menyetir, Kakak dulu. Lagipula, Supir kita sedang sakit,” kata Ibu. Pembicaraan
itu terus berlanjut hingga akhirnya aku bosan dan memutuskan membaca Buku yang
baru kubeli.
Ternyata, sinopsis cerita itu ada
berhubungan denganku. Hobiku masa kecil, dan profesiku saat ini. Penulis novel.
Petualangannya sangat menarik bagiku. Aku menjadi semakin tertarik untuk membeli
seri yang lainnya. Humm, mungkin lusa sempat.