Kamis, 13 Oktober 2016

NOPEN : "Negeri Biru"

Oleh       : Abdul Halim           



                                        CERITA 1 




Kebisaanku memandang awan memang tiada duanya. Hobi itu diturunkan dari Buyut dari buyut-buyutku yang rumornya berasal dari negeri biru. “Ah, bodo amat” hanya itu yang ku gumamkan saat para desas desus berdenging di telingaku.
       Negeri Biru. Hanya karangan manusia. Negeri Biru yang aman. Negeri biru yang tenteram. Negeri Biru yang tinggal diatas awan. Biru yang katanya memiliki kekuatan air. Biru yang ini itu. Aduh, kepalaku berputar-putar memikirkannya.
         Dan rumornya pula, Lambang Negeri biru adalah Awan. Lambang kesejahteraan. Memangnya awan itu biru?(jawaban orangorang hanya air berwarna biru, dan air berasal dari awan). Ah, sudahlah, aku masih kelas 6 SD, Belum perlu memikirkan itu(memang tidak perlu;), dan harus fokus saja pada pelajaranku. 
              

 











CERITA 2.

Three years later.
     Umurku sekarang 14 tahun. Kelas 3 SMP. Aku tumbuh remaja sama seperti Remaja lelaki lainnya. Tumbuh menjadi Edward Beckenhaule yang sedikit lebih lain dari Edward yang dulu, Edward yang polos dan tak mengerti apapun, kecuali hanya pelajaran. FOKUS.
Edward Beckenhaule. Itu namaku.                        

***

Perpustakaan kota akan dibangun dengan kontraktor-kontraktor ternama. Dan pastinya, didesain dengan insinyur yang ternama juga. Itu dikenal sebagai perpustakaan yang cukup terkenal di kota ini, The Hidden Library. Nama yang cukup Misterius dan tentunya sangat terlihat tak kreatif, tapi….  
      Nama Perpustakaan itu berarti banyak dan menyimpan banyak rahasia dan keajaiban.
***
Aku menguap. Jam beker sedari tadi berdering keras, nyaris terdengar keluar rumah.
      “Besok perpustakaan resmi dibuka,” gumamku. Ya, tepat hari minggu, Hidden Library resmi dibuka. Aku sudah tak sabar menyelidiki perpustakaan absurd itu. Yang jelas, aku sekolah dulu.
      
      “Hai!” Patrick menyapaku riang.
“juga,” balasku singkat.
        “Ed, kau sudah lihat keramaian sejak jam 12 malam? Saat bangunan Perpus sudah selesai? Wow, aku bergabung menerobos kerumunan itu. Kau tidak melihatku? Aku sekeluarga kesana, dan aku yakin kau juga di antrian itu, kan? Dan, wow, asyik dong kau bisa melihatnya secara dekat.” Patrick bertanya yang benar-benar tidak aku ketahui dan sangat absurd.
.     “Memangnya, apa yang diperebutkan kerumunan itu?” aku mulai penasaran.
     “Memotret,” jawab Pat pendek.
     “Siapa?”
     “Astaga, Ed! Padahal  kau keturunannya! Keturunan Raja Biru! Kau ingat? The Hidden World yang sering diceritakan ibumu! Konon, dialah Raja biru. Pemimpin Negeri biru! Dia datang bersama pangeran putih, pemimpin negeri putih!” Patrick berseru.
    Apa yang kudengar? Lelucon macam apa ini? Hidden World? Ya aku ingat dongeng itu. Tapi, itu hanya dongeng, tidak lebih. Dongeng yang tiada benarnya. Dongeng yang selalu dipercayai anak kecil berumur 1-2 tahun. Dongeng yang… ah, sudahlah. Aku hanya berpaling, tidak mendengarkan lagi Patrick yang mulutnya masih sibuk berbicara.
       Ya, memang itulah tipeku. Tidak mau banyak pikiran, pendiam. Sebab itulah membuatku jarang sakit. Sampai saat ini, aku baru dua kali sakit. Karena sifatku; acuh saja. Cuek saja.
    


Pulang Sekolah.
     “Huhhh, patrick sangat percaya pada Negeri Biru! Hidden World dipercayai banyak orang? Jangan-jangan saking hebohnya dunia ini sendiri juga Negeri Biru! Dan aku keturunannya? Omong Kosong!” aku membanting kemudi mobilku ke kanan, mengadu pada Ibu.
         Ibu menatapku kosong, sepintas lalu ada juga rada-rada terkejut. “Hmmmh, sudahlah, Ed. Tak usah dipikirikan. Hei, sejak kapan kau mulai berubah? Bukankah kau yang mengatakan sendiri bahwa orang yang banyak pikiran dan peduli sekali terhadap omong kosong bukan sifatmu? Sekarang, kau tak butuh banyak tahu. Lagipula, mana mungkin Orang terhormat sedunia(rumor orang orang raja biru orang terhormat)datang, melambaikan tangan—ah, terlalu berlebihan! Ya, ibu pun tidak mau datang ke antrean mengular itu. Kecuali semalam, baru ibu menyadari, bahwa itu juga orang menyamar, mengecat seluruh pakaiannya dan mahkotanya dengan warna biru.” Ibu menasihatiku panjang mengular, sepanjang antrean semalam.
         “Mungkin,” aku gesit mengerem Alphard hitamku. Kami sampai.
Sampai rumah, aku sudah tidak mengacuhkan pikiranku lagi. Soalnya aku akan ikut kompetisi Novel Se-international, karena memang aku sudah terpilih. Jadi, sedikit pun tak ada tempat untuk memikirkan yang lain, hanya memikirkan kepentinganku, berusaha meraih enam belas miliar. Dan Medali Emas asli seberat 3 ons, jenis emas londen.
        Meski aku terlahir keluarga kaya, aku merasa uang juga harus ditambah dan didapatkan oleh diriku sendiri. Seperti pejuang keras, aku menjuluki diriku.
   Sayang, kompetisi itu berakhir dengan penyerahan sertifikat dan penyerahan boks besar berisi 12 miliar, dan penyerahan emas  95 gram.
        Aku juara dua umum.
Sainganku, Chaven Holski. Dia sungguh sungguh jago dan mahir membuat novel(apalagi novel trilogy, dia bisa diandalkan), bisa dikatakan dia jauh lebih hebat.
        Chaven juara 1 umum. Dia mendapatkan enam belas miliar.
Tak buruk. Yang pasti, aku sudah bekerja keras. Plong sudah otakku. Semua pikiran bersih. Semua urusan selesai. Dan sekarang, aku harus pulang, karena Ibu akan keluar kota mengajakku.
     Kebiasaan Ibu tiada duanya sudah. Berbelanja.

Dengan bersungut sungut aku mengganti baju. Rasanya malas sekali. Apalagi otakku yang lelah dan tanganku yang kebas selama 8 bulan ini mengetik keyboard komputer. Untuk membuat novel berjumlah seribu lembar selama 8 bulan.
Tapi,  tak apalah. demi ibu. Demi orang yang sangat kuhormati.
          Lagi-lagi aku yang akan menyetir(padahal ibulah salah satu lulusan akademi mengemudi terbaik, dan bahkan pernah mengikuti balapan mewakili kota ini. Sayangnya ibu tak menang, dikarenakan menabrak mobil balap lain dan pengemudinya tewas. Harusnya ibu juara satu). Tapi biarlah, sesuai yang kukatakan tadi. Demi ibu.
            Asap mobil pekat mendekat ke halaman rumah kami. Aku menggas habis. Ibu terlonjak dari tempat duduknya. Aku juga terkejut. Aku pikir aku belum memasukkan Control Speed  System(dikenal dengan gigi)meski itu Automatic. Hampir kami menabrak pohon beringin di depan gang.
       
      Suasana di Mall
   Ramai.  
Rasanya tidak enak kalau hanya duduk melihat ibu terkesima kesima melihat kecantikan gaun, atau capek harus memberikan pendapatku atas permintaan pendapat baju dari ibu. Aku memutuskan berjalan jalan sekitar Carrefour. Ada sebuah Kibod kecil terdengar. Ternyata ada Catwalk kecil untuk sekaligus mempromosikan baju baju yang lumayan cantik. Tapi, tidak untukku.
       
Aku berjalan, hingga ke pusat handphone.

“Selamat Siang, Pak, silakan dilihat Lenovo A-31477 nya pak. RAM 3 GB, Baterai 1200 MaH, lalu  ….”
        “Promosi Coolpad MAX dengan dual in one, dan dengan harga terjangkau, baterai 1500 MaH, lalu …”
         “Pelanggan terhormat POLYTRON ZAP F2277 dengan Ram 5 GB, harga 1,750 rb, baterai ZAP tahan lama dengan 4800 MaH, lalu …”
     Aku sedikit tertarik. Hanya sedikit, hanya sedikit sekali. Jika kalian makan sesuatu, itu kurang dari sejumput dan kurang dari secuil atau seutas atau—sebutan lainnya untuk menyebut lebih dari kecil. Jangankan melirik sekilas, mendengarkannya saja, aku sedikit terganggu. Meski separuh dari tidak suka.
              Lalu  Laptop. ASUS D78129 dengan baterai 6000 MaH, berhasil mencuri perhatianku. Aku melirik sekilas. Tapi Aku sudah membeli laptop baru—laptop terbaik dua bulan lalu. Dengan RAM 10GB, bonus paket data sebanyak 6gb, lalu Baterai 10000 MaH. Harga hampir 50 juta, tapi aku tak keberatan. Yang penting aku menulis novel terbaik.
               KidS Playground digital atau dikenal dengan TimeZone. Ya Ampun ! apa yang dikatakan orang kalau aku memainkannya?
                Toko permainan anak zaman sekarang, itu judul toko. Ada PlayStation, lalu Nintendo DS, lalu PSP, dan aneka lainnya. Ah, ini sih toko permainan pemilik toko ini! Ini jelas jelas mainan anak SD 1-Kelas6, terkecuali Playstation.
           Akhirnya sampailah aku di pilihan toko buku. Toko buku itu besar. Namanya Hidden Library juga. Bagus, ini cabangnya perpus dekat rumahku itu.
          Aku melewati sebuah rak. Memandangi novel-novel yang berjejer. Hidden World juga ada. Tebersit keinginanku untuk lebih banyak tahu, seperti yang dikatakan ibu tadi. Sepertinya tipeku berubah.
       Hidden World adalah seri nya. Hidden World adalah novel trilogy. So, aku membeli buku negeri Hitam dulu.
       Hidden World adalah novel seri atau trilogy. Berkisah tentang tiga dunia yang jahat dan baik. Aku tak tahu jalan cerita, jadi aku memutuskan membeli buku Negeri Hitam dulu. Pilihan novelnya : Negeri Biru, Negeri Putih, dan Negeri Hitam. Aku kemudian mengantar buku itu ke kasir, lalu kubayar.
        Aku sedikit tidak sabar. Akhirnya aku memutuskan menjemput ibu di lantai bawah.
        Ibu sudah menenteng boks belanjaan besar di kanan kiri tangannya. Tiba tiba ibu mengajakku ke food court. Tak buruk. Aku memang belum makan siang, padahal ini jam setengah dua.
           Ibu memesan daging sapi dan kopi susu. Aku hanya makan sandwich nasi. Ya, Sandwich yang dilapisi nasi lezat.
      
Saat pulang.
“Yaah, meskipun lelah, kami senang,” Ibu berceloteh dengan adik perempuan ku yang masih kelas 6 SD.
           “Siapa yang menyetir? Kakak lagi? Aduh, Kakak kan capek, bu.” Protes adikku simpatik.
           “Mumpung masih ada yang bisa menyetir, Kakak dulu. Lagipula, Supir kita sedang sakit,” kata Ibu. Pembicaraan itu terus berlanjut hingga akhirnya aku bosan dan memutuskan membaca Buku yang baru kubeli.

             Ternyata, sinopsis cerita itu ada berhubungan denganku. Hobiku masa kecil, dan profesiku saat ini. Penulis novel. Petualangannya sangat menarik bagiku. Aku menjadi semakin tertarik untuk membeli seri yang lainnya. Humm, mungkin lusa sempat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar